Ya Nur Muhammad?: Catatan Renungan dari Anaknya Ibu Nur Hasanah

Kajian Selasa Malam (12/11) tentang “Nur Muhammad: Studi Pemahaman Hadits antara Abdullah al-Harari dan Yusuf al-Nabhani” masih bergeliat di alam pikiran saya. Utamanya tentang filosofi yang terkandung pada Nur Muhammad. Namanya juga falsafah, jadi lumrah jiwa diawali dengan tanya. Si(apa) ‘nur Muhammad’?, lantas apa bedanya dengan ‘nur’ lainnya?.

Aku tetap yakin bahwa aku ada karena peran dari Nur. Walau bukan dari ‘Nur Muhammad’, ibuku, Nur Hasanah, biasa dipanggil Bu Nur. Aku sendiri ada seperti sekarang karena peran dari Nur, walau bukan Nur Muhammad. Sempurna dengan pembuaian dalam rahim selama 9 bulan. Urusan aku adalah serpihan dari Nur Muhammad-Nya Allah atau tidak. Aku manut apa kata ‘kerumunan’ saja.

Dalam kamus al-Munjid, menjelaskan bahwa nūr adalah sinar dalam bentuk apa saja, lawan dari kegelapan. Dikalangan sufi, istilah nūr selalu dinisbatkan pada Nabi Muhammad SAW dengan istilah Nur Muhammmad atau Haqiqah Muhamadiyah. Istilah tersebut dicetuskan pertama kali oleh al-Hallaj (922 H).
Rumpun keilmuwan filsafat tasawwuf mengemukakan bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad, dan dari cahaya itulah segalanya diciptakan; seperti bumi, langit, bulan, matahari, dan (mungkin) termasuk manusia sejenisku, mantanku, kekasihku, dan pelakor dalam hubunganku.

Nur muhammad tidak hanya terdapat pada Nabi Muhammad SAW saja, melainkan ada padaNabi-nabi terdahulu. Hanya saja, mencapaikesempurnaannyapada wujud Nabi Muhammad SAW. Cahaya yang mencapai kesempurnaan itu disebut insan kamil, berdasarkan teori falsafah yang dikemukakan olehSahl ‘Abdullah al-Tusturi.
Al Hallaj mengembangkan pengertian Sahl Abdullahal-Tusturi, bahwa Nur Muhammad dapat dikonsepkan sebagai awal kejadian yang sekaligus sebagai sumber dari segala kejadian dalam peristiwa. Kemudian dikembangkan oleh Ibn‘Arabi pada teori wahdatul wujud, bahwa yang dimaksud dengan Nur Muhammad adalah Allah ber-tajalli di hadapan manusia bernama Muhammad. Dan manusia tersebut selanjutnya disebut dengan insane kamil.
Ibn‘Arabi memperlugas konsepnya bahwa ini adalah upaya Allah untuk menunjukkan ke-Tuhannya sebagai pencipta segalanya. Allah menciptakan semesta beserta isinya termasuk manusia. Kemudian ber-tajalli di hadapan manusia semata-mata agar manusia tersebut—yang diberi mandat sebagai khalifah di muka bumi—bersaksi bahwa segalanya diciptakan oleh Allah, termasuk manusia itu sendiri.

Di sisi lain menurut Simuh, bahwa terdapat paham immanensi Tuhan dalam diri manusia. Tuhan diibaratkan sumber cahaya yang memancarkan segala penjuru. Pancaran pertama dari Zat Allah yang mutlak adalah Nur Muhammad, dan darinyalah tercipta alam semesta termasuk aku, tukang pentol dan calo skripsi berkedok loper koran.
Sebentar dulu. Ingatakanku tiba-tiba jatuh pada gulatan bahasa yang senada dengan Heiddeger bahwa bahasa adalah sumber atau tanda dari kehidupan. Maksudku, nār (api) dan nūr (cahaya) dalam kitab Mu’jamal-Maqayis a-Lughah memiliki makna yang senada bahwa keduanya adalah terang dan terjadinya berubah-ubah dan cepat.
Lantas pikiranku jatuh pada pelajaran fisika saat SMA. Bahwa cahaya diperoleh dari listrik atau (percikan) api. Analogi ilmu fisikanya; batu (benda padat) yang digesekkan akan menciptakan percikan listrik (api) kemudian menjadi api yang utuh. Sinar pun tampak dari api yang menyala. Coba sambil anda bayangkan yaa..

Berarti, jika selama ini matahari disebut sebagai cahaya, anggapan tersebut belum mengarah pada medium matahari. Sebab dari analogi gesekan batu, matahari adalah api. Hanya saja karena kita menangkapnya dari kejauhan, jadilah cahaya. Dengan kata lain api atau listrik yang berantakan apabila direduksi dengan baik akan menjadi cahaya yang pas—tidak merusak indera penglihat.
Setahu-ingatku ihwal hubungan listrik (api) dengan cahaya adalah demikian.—‘listrik’ adalah kata yang menggeser kata ‘api’ sejak teknologi mesin hadir. Jauh daripada itu, teori relativitas E=mc² merupakan teori ihwal kecepatan cahaya. Jadi, penjelasan fisika ‘dangkalku’ menyetujui bahwa penyamaan esensi dari nūr dan nār adalah terang, cepat dan berubah-ubah. Padanan yang serupa deengannya adalah sesuatu yang berhubungan dengan masa (waktu) atau kecepatan. Maka sangat memungkinkan bahwa segalanya bisa dimiliki dan dikendalikan oleh manusia selain kecepatan dan masa. Sungguh kuasa Allah yang luar biasa.

Dengan demikian, aku tidak yakin bahwa aku adalah Nur Muhammad, walau ibuku bernama Nur Hasanah. Selain karena ‘Kelancangan diri’, aku masih memiliki potensi kadar yang rendah untuk menjadi insan kamil. Bukan tidak bisa menjadi insan kamil. Hanya saja, aku lebih post-positivisme saja dalam memandang diriku sendiri. Aku tetap debu (turob), sebagaimana bahan dasar Tuhan menciptakan aku. Dan aku pun bisa jadi bukan debu tanpa kehadiran Nur Muhammad. Dengan kata lain, aku akan menjadi debu dan tampak sebagai debu ketika disinari oleh cahaya.
Menutup notulensi ini, hadits ihwal NurMuhammad, direspon berbeda oleh kalangan ahli hadits sebagaimana hasil dari riset yang dilakukan Muhammad Lutfianto mahasiswa Pasca-sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya
Misalnya, Abdulahal-Harari dan Yusufal-Nabhani. Abdullah al-Harari menolak konsep awal pencitaan adalah Nur Muhammad, alasannya karena hadits (riwayat Jabir) yangdijadikan sandaran utama konsep ini adalah mawdu’ (palsu). Pertama, karena bertentangan dengan nashal-Quran—bumi diciptakan dari air—. Kedua, bertentangan dengan hadits shahih. Terakhir, karena keraguannya pada hadits tersebut diriwaytkan oleh Abdal-Razzaq.
Sedangkan Yusufal-Nabhani berpandangan berbeda, bahwa hadits yang berkenaan dengan awal penciptaan nur muhammad, walau haditsnya dha’if, namun boleh diamalkan asal tidak bertentangan dengan al-Quran kemudian disampaikan oleh orang yang sudah teruji kesalihanya. Misalnya dengan jalan liqa’ al-nabi—tradisi imamma’sum pada kalangan ulama syi’ah—dan tariqal-kashf.

Hemat saya, walau ungkapan Yusufal-Nabhani terkesan memaksakan, ini lumrah terjadi pada belantika keilmuwan. Aku tetap anaknya Ibu Nur Hasanah yang mengharapkan keterlibatan Nur Muhammad demi eksistensiku sebagai manusia yang berbahan dasar debu (turob). Urusan aku adalah percikan Nur Muhammad-Nya Allah atau tidak, aku manut apa kata ‘kerumunan’ saja. Yang jelas sesuatu dianggap ‘normal’ dalam The Curva Bell dapat tercipta dari Cultural Quotient (rerata kultural) sebagaimana ungkapan pegiat diskursus kecerdasan rerata, misalnyaHerrnstein, Murray dan Gardner.
Wallahua’lambishshowab

Surabaya, 15 November 2019
Bung Sokran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *