Van Egypte voor Repobleik Indonesie (Resensi Buku The Grand Old Man)

Judul Buku      : The Grand Old Man

Pengarang       : Haris Priyatna

Penerbit           : BitRead

Tebal               : 184 halaman

Peresensi         : Jaka Ghianovan

Sebuah novel karya Haris Priyatna yang mengisahkan tentang perjuangan Haji Agus Salim dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Novel ini mengambil latar belakang pada masa revolusi fisik khususnya tahun 1947. Sebelum membahas mengenai Misi Diplomatik Indonesia ke Mesir pada 1947, Novel ini diawali dengan prolog pada tahun 1954.

Pasca wafatnya Haji Agus Salim, Mohammad Natsir (mantan Perdana Menteri Indonesia saat itu) datang ke rumah Mohammad Roem (mantan Menteri Luar Negeri pada masa Soekarno) membicarakan sekelumit kisah hidup pak Haji, panggilan Haji Agus Salim. Natsir dan Roem mengakui bahwa pak Haji merupakan orang pintar, cerdas, juga langka di antara semua tokoh Islam di Indonesia. Kisah keberaniannnya berbicara bahasa Melayu di Volksraad (Dewan Rakyat) juga keaktifannya dalam organisasi Sarekat Islam menjadikan keduanya mengagumi Haji Agus Salim. Namun di balik kelebihannnya tersebut, pak Haji tetaplah sosok yang hidup bersahaja dan sederhana. Saking sederhananya, pak Haji tidak memiliki rumah karena selalu tinggal di kontrakan.

Novel ini lebih fokus menceritakan kisah Haji Agus Salim sebagai tokoh sentral dalam karya Haris Priyatna. Penulis mengawali cerita novel ini dengan kisah gugurnya Sjewket Salim di Lengkong, Tangerang karena ditembak oleh Tentara Jepang. Sjewket bersama Mayor Daan Mogot ikut serta bertempur melawan Jepang karena ingin meraih kemerdekaan. Selanjutnya novel ini juga mengisahkan kembali beberapa tahun setelah kematian Sjewket. Pada novel tersebut diceritakan mengenai dialog antara Haji Agus Salim dengan Bahrum Rangkuti mengenai kisah Haji Agus Salim dalam perjuangannya di bidang diplomasi dalam usaha pengakuan kemerdekaan RI oleh Kerajaan Mesir. Dialog ini merupakan pintu masuk dalam cerita utama yang ada dalam novel ini.

Setelah terjadinya konferensi Inter Asia di New Delhi, India, seorang utusan Kerajaan Mesir yang bernama Muhammad Abdul Mun’im menyarankan agar Indonesia mengirim utusan ke negeri Piramida karena negara tersebut akan mengakui kedaulatan Indonesia, maka Indonesia pun mengirim utusan ke Mesir sebagai kunjungan balasan yang dipimpin oleh Haji Agus Salim. Pak Haji menebut misi yang berat ini sebagai Mission Diplomatique.

Cerita selanjutnya mengenai kisah Haji Agus Salim memulai misi pengakuan kedaulatan Indonesia. Rombongan yang terdiri dari Abdurrahman Baswedan, Mohammad Rasjidi, Nazir Sutan Pamuntjak mulai mendarat di Bandara Kairo. Ketika terjadi pemeriksaan di imigrasi, rombongan mengalami kesulitan masalah administrasi. Karena saat itu Indonesia baru merdeka dan masih belum memiliki paspor, maka gantinya adalah surat jalan dengan tujuan misi diplomatik, namun petugas imigrasi belum bisa mengizinkan rombongan tersebut masuk ke negara Mesir. Abdurrahman Baswedan sangat khawatir dengan keadaan ini. Baswedan pun menunjukkan dokumen-dokumen penting dalam misi ini seperti Pembukaan UUD 1945 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, surat jalan sebagai pengganti paspor juga mengenalkan satu persatu rombongan disertai jabatannya di elit pemerintahan Indonesia. Namun petugas pun tetap saja menolak mengizinkan rombongan masuk ke Mesir, hingga akhirnya Haji Agus Salim pun melobi petugas tersebut dengan cara berbicara empat mata. Petugas kaget karena pak Haji ternyata fasih bahasa Arab. Sehingga memudahkan proses perizinan rombongan untuk masuk ke negara Mesir.

Selain utusan tersebut, diceritakan pula tokoh masyarakat Indonesia di Mesir dengan tokoh sentralnya Muhammad Zein Hassan dan Abdul Kadir sebagai aktivis Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Mereka merupakan penghubungan bagi utusan Indonesia kepada pemerintah Mesir. Keduanya merupakan mahasiwa Indonesia yang belajar di Mesir. Bersama dengan Zein Hassan juga Kadir, Haji Agus Salim dan utusan merintis usaha pengakuan kedaulatan di negeri tersebut.

Perjuangan yang begitu berat dirasakan oleh kedua pihak, baik utusan maupun aktivis PPKI dengan ruwetnya birokrasi di negara Mesir. Di negara tersebut mereka harus menemui Sekretaris Liga Arab yakni Abdurrahman Azzam Pasha. Orang ini sangatlah mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, sehingga menyerukan kepada seluruh negara Arab agama mendukung kemerdekaan Indonesia. Azzam Pasha turut serta menghubungkan para utusan dengan pemerintah Mesir khususnya perdana Menteri yang merangkap menteri Luar Negeri yakni Mahmud Fahmi al-Nuqrasyi Pasha. Di tangan Nuqrasyi lah perjuangan para utusan tersebut ditentukan. Jika Nuqrasyi setuju mengakui kedaulatan, maka misi ini berhasil. Kalau sebaliknya, maka misi ini gagal.

Untuk menemui Perdana Menteri Nuqrasyi tidaklah semudah yang dibayangkan, protokoler kerajaan menjadi penghambat utama dalam misi ini, juga adanya tekanan dari pihak Belanda melalui Kedutaan Besarnya di Mesir beserta kaki tangannya yang menghalangi usaha pengakuan kedaulatan Indonesia. Pada misi ini tantangan utama yang dihadapi oleh para utusan dan aktivis PPKI adalah Cornelis Adriaanse, seorang Duta Besar Keliling Kerajaan Belanda yang khusus didatangkan untuk membujuk Nuqrasyi. Selain itu Belanda pun memiliki mata-mata yakni Jensen, pengawal Cornelis juga Hisyam, seorang kawan Zein Hassan dan Kadir yang diam-diam adalah mata-mata Belanda.

Pada novel ini diceritakan para utusan diharuskan tinggal selama enam bulan di hotel Continental, salah satu hotel mewah di Kairo, karena sulitnya usaha untuk menemui Nuqrasyi Pasha. Padahal, setelah bertemu dengan Azzam Pasha, ia berjanji akan menghubungi Nuqrasyi Pasha, namun Azzam Pasha pun mengalami hambatan dalam usahanya melobi Perdana Menteri tersebut. Meski demikian, Agus Salim tetap bersabar dan terus memanjatkan doa agar dimudahkan menjalankan misi penting ini.

Penulis juga menyorot potret kehidupan Haji Agus Salim yang sederhana, namun menyimpan banyak kelebihan yang tidak disangka-sangka. Seperti yang terlihat ketika pak Haji memberi kuliah Umum di Universitas Fuad 1 (sekarang Universitas Kairo). Saat itu sang rektor meminta pak Haji berbicara dalam bahasa Inggris dan rencananya Zein Hassan disiapkan sebagai penerjemah bagi pak Haji. Ketika membuka pidatonya, nyatanya pak Haji berbicara langsung dalam bahasa Arab, sehingga para pendengar yang umumnya warga Mesir takjub akan kefasihan bahasa Arab pak Haji yang ternyata juga memiliki selera humor tinggi.

Setelah menunggu selama enam bulan, akhirnya perjuangan para utusan menemui Nuqrasi Pasha pun berhasil hingga terjalinnya perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Mesir. Alhasil, keberhasilan ini pun menjadikan pihak Kedutaan Belanda sangat kecewa dengan segala rencana yang telah dipersiapkan secara matang.

Novel ini memang hanya memotret tokoh Haji Agus Salim semata, sehingga kurang melihat kepada tokoh lain seperti Abdurrahman Baswedan, Nazir Sutan Pamuntjak dan Muhammad Rasjidi. Selain itu juga hanya melihat perjuangan ini dari sisi para utusan Indonesia dan kurang melihat pada usaha perjuangan para pelajar Indonesia juga rakyat Mesir yang bersimpati pada perjuangan Indonesia. Padahal tokoh-tokoh yang disebut pun memiliki andil besar dalam memperjuangkan diplomasi Indonesia di kancah internasional. Para pelajar Indonesia pun turut serta menyumbangkan ide dan mengorbankan jiwa raganya untuk ibu Pertiwi. Meskipun demikian, novel ini memiliki nilai-nilai yang sangat penting, sehingga sangat disarankan untuk dibaca oleh siapa saja yang belum mengenal dekat Haji Agus Salim beserta perjuangannya.

Semoga setelah adanya novel The Grand Old Man yang dilanjutkan dengan film Moonrise Over Egypt, para novelis dan sineasi Tanah Air dapat menceritakan kembali kisah para Pelajar Indonesia di luar negeri mengenai perjuangan mereka dalam membela kemerdekaan bangsa. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *