Urgensi Hermeneutika Resiprokal dalam Pembacaan Hadis Relasional

Dalam memahami Al-Qur’an maupun hadits di era sekarang ini, terdapat slogan yang sangat familiar di telinga kita, yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan hadits. Setelah diselidiki, ternyata ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan hadits itu lebih kepada ajakan untuk “kembali kepada tekstualitas Al-Qur’an dan hadits” secara apa adanya sebagaimana yang dibaca. Sehingga menyebabkan timbulnya ketimpangan pemahaman terhadap teks-teks tersebut. Sebab pemahamannya hanya berhenti dalam ranah teks saja, sedangkan esensi moral yang ada dibalik teks  menjadi terabaikan.

Dewasa ini masyarakat indonesia sering  disuguhkan hadits-hadits dengan pemahaman yang cenderung literal-tekstual. Akibatnya perkembangan hadits di masyarakat mengalami distorsi makna. Untuk mengatasi ketimpangan pemahaman ini, khususnya dalam memahami hadits-hadits relasional diperlukan teori hermeneutika resiprokal sebagai teori pembacaan teks.

Hermeneutika resiprokal atau yang biasa disebut qiraah mubadalah adalah teori pembacaan teks yang dikembangkan oleh Faqihuddin Abdul Qodir, Seorang cendekiawan muslim asal Cirebon, Jawa barat.

Untuk menerapkan teori mubadalah ini, ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu:

  1. Pra teks, yaitu pehaman awal pembaca terhadap teks-teks universal dan prinsipal dalam ajaran Islam.
  2. Menemukan gagasan utama teks. Ini dapat dilakukan dengan membuang subjek yang disebutkan dalam teks tersebut. Misalnya laki-laki atau perempuan dalam teks yang terkait dengan relasi gender.
  3. Menerapkan gagasan utama teks pada subjek yang tidak disebutkan untuk memunculkan makna baru yang lebih seimbang dan ideal. Dengan ini ketimpangan yang sekilas terlihat ketika membaca teks Al-Qur’an maupun hadits tadi dapat tersingkirkan dari pemahaman.

Singkatnya teori  ini mengungkap  prinsip kesalingan (mubadalah),  kesetaraan, dan lebih berpegang teguh kepada kemaslahatan umat dalam memahami teks Al-Qur’an maupun hadits yang seakan-akan cenderung memihak dalam tinjauan pembacaan tekstual.

Oleh: Harfin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *