SELAYANG PANDANG TAFSIR NUZULI

Problematika dunia tafsir sampai saat ini masih hangat diperbincangkan. Pasalnya tafsir merupakan pemikiran tokoh yang terus eksis sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti biasanya pada hari Kamis, 03 Desember kemarin CRIS Foundation mengadakan kajian mingguan. Tema pada edisi kali ini yaitu “ Selayang Pandang Tafsir Nuzuli” dengan diskusi yang dipimpin oleh Maqdis, S.Ag mengulas tentang tafsir nuzuli dan eksistensi tafsir nuzuli.

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad dengan bahasa arab secara berangsur–angsur sebagai pedoman bagi umat islam yang mempunyai nama yang sudah tauqifi dan mempunyai banyak keutamaan–keutamaan. Berbicara mengenai sejarah Al-Qur’an tentu saja akan mengajak kita berlari ke masa lalu dengan kembali menggali fakta yang ada. Mengingat Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus dalam masa yang relatif panjang yang dimulai sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul sampai menjelang wafatnya beliau. Sehingga Al-Qur’an belum dibukukan seperti sekarang, meskipun begitu pengumpulan ayat – ayat Al-Qur’an masih tetap berjalan. Sebelum kodifikasi Al-Qur’an sahabat menuliskan ayat – ayat Al-Quran pada tulang, batu dan pelepah kurma sesuai yang ada pada saat itu. Polemik mengenai Al- Qur’an memang sudah ada sejak masa sahabat, yakni bagaimana kodifikasi Al-Qur’an yang dimulai dari pengumpulan ayat – ayat Al-Quran yang masih terpisah – pisah, dan adanya penghafal Al-Qur’an yang gugur diperang Yamamah. Hal ini membuat kehawatiran pada benak sahabat akan kemusnahan Al-Qur’an, lalu Umar menyarankan kepada khalifah Abu Bakar bahwa Al-Qur’an harus dibukukan dan menjadi mushaf. Saat itupula khalifah Abu Bakar mengumumkan kepada kaum muslim untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Beliau lalu memerintah Zaid bin Tsabit untuk mengepalai proyek tersebut, dikarenakan kemampuannya yang bagus dalam hal bacaan maupun tulisan. Setelah itu pada masa Khalifah Ustman bin Affan Al-Qur’an baru diperluas ke beberapa wilayah mengingat agama islam juga sudah meluas. Pada masa ini cetakan Al-Qur’an disebut dengan cetakan Ustmani. Dalam penyusunan ayat setiap surat dilakukan atas perintah Nabi yang mengikuti petunjuk dari Allah SWT secara tauqifi.

Setelah tersebar luasanya mushaf ke bebberapa wilayah dan penjuru dunia perkembangan tafsir pun juga mulai mengisi dunia keilmuan Al-Qur’an. Penafsiran mengalami pertumbuhan yang sangat luar biasa dalam sejarah perkembangan tafsir dari masa formalitas hingga kontemporer. Proses penafsiran Al-Quran pada setiap masa memiliki kecendrungan yang berbeda, sehingga akan menghasilkan produk yang berbeda pula. Seperti halnya yang dipaparkan oleh al–Farmawi yang menyebutkan metode tafsir terdiri dari metode Tahlili, ijlmali, muqaran dan maudhui dengan mencakup corak dan kecenderungan mufassir.

Secara umum, produk dibidang Al – Qur’an sementara ini terkontruksi pada tafsir dan ilmu Al-Qur’an. Dalam perkembangannya, karya dibidangkan tafsir akan menghsilkan gaya baru pada penulisannya, ada yang menulis secara konvesional yang dikenal dengan metode tahlili. Adapula yang menulis tafsir dengan bertema – tema yang disebut dengan metode maudhui. Kedua metode penafsiran ini cenderung tidak melibatkan konteks turunnya wahyu.  Bahkan belakangan ini muncul sebuah karya yang mengkaji Al-Qur’an berdasarkan kronologi turunnya ayat seperti al-Tafsir al-Hadis karya Izzat Darwazah. Hal ini menarik dalam kajian Al-Qur’an karena tafsir Nuzuli hadir sebagai pengingat terhadap konteks tersebut.

Dalam diskusinya, kak Maqdis menyebutkan bahwa tafsir nuzuli adalah susunan tafsir yang tidak mengikuti rasm Ustmani tetapi susunannya seseuai dengan turunnya ayat. Menurut Izzat darwazah tidak dapat dipungkiri bahwa Al-Qur’an sebagai objek bacaan tetap pada mushafi namun dari sisi objek kajian tafsir Al-Qur’an masih bisa ditelisik makna – maknanya. Izzat darwazah dalam metode tafsir nuzulinya memiiki relevensi dengan zaman modern hal ini menghasilkan suatu nilai yang baru dalam penafsiran serta corak dalam pemahaman tentang Al-Qur’an. Beberapa tokoh orientalis juga mengambil alih dalam penelitian tafsir nuzuli diantaranya Theodore Noldeke, dengan judul Tarikh Al-Qur’an, Ighnaz Goldziher  dengan judul al-‘Aqidah wal Syari’ah, dan Montgomery Watt dengan karya Muhammad fi Makkah dan Muhammad fi Madinah yang mana niat meniliti karena ingin menemukan gambaran wahyu dan perjalanan nabi Muhammad.

Tafsir nuzuli dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, tafsir nuzuli-tajzi’ yakni menafsirkan ayat dan surat yang pertama kali turun sampai pada yang terakhir diturunkan baik secara tahlili seperti tafsir al hadis karya Izzat darwazah maupun ijmali seperti fahmi Al-Qur’an karya Muhammad Abid al-Jabiri. Kedua, tafsir nuzuli-maudhu’i yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan menetukan tema terlebih dahulu kemudian menganalisis melalui Al-Qur’an sesuai tartib nuzul, seperti Masyahid al-Qiyamah fi Al-Qur’an karya Sayyid Qutub dan Ahsan al-Qashash karya Ibnu Qarnas. Mufasir Indonesia juga menafsirkan Al-Qur’an dengan tartib nuzuli diantaranya Quraish Shihab yang menafsirkan hanya surat – surat pendek dalam Al-Qur’an dan KH. Abdul Malik dengan karya tafsir sinar. Di akhir pemateri menambahkan bahwa masih sedikit yang meneliti tafsir nuzuli, jadi masih sangat diharapkan jika kajian tafsir nuzuli diteliti lebih mendalam lagi.

Penulis : Miftakhul Wulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *