Selamat! Empat Artikel Anggota CRIS Foundation bertema Living Qur’an Hadis Terbit di Jurnal Terakreditasi

Layaknya orang yang gemar berliterasi, CRIS Foundation juga kerap mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan minat literasi anggotanya. Tak hanya perihal membaca, tapi juga meneliti di lapangan secara langsung, menuliskannya, lalu mempublikasikan hasilnya agar dapat dibaca oleh para pecinta literasi dan khalayak umum.

Sehubungan dengan itu, di akhir tahun 2019, CRIS Foundation mengadakan kerja sama dengan Laboratorium Studi Qur’an Hadis (LSQH) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta untuk melangsungkan kegiatan Workshop Living Qur’an and Hadith: Reinforcement and Intensive Course. Tepatnya pada tanggal 18-31 Desember 2019. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Ahmad Rafiq, Ph.D, Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag dan Dr. Saifuddin Zuhri serta para fasilitator LSQH lainnya.

Jauh hari sebelum workshop itu berlangsung, CRIS F telah mengadakan call for paper terlebih dahulu. Hal itu bertujuan untuk mencari dan menyeleksi penelitian yang layak untuk dipublikasikan di jurnal. Dari sekian paper yang tersubmit, dipilihlah enam paper penelitian untuk selanjutnya diperbaiki di kegiatan workshop, baik itu secara teknis atau kaidah kepenulisan maupun kontennya.

Dari keenam penelitian tersebut, satu artikel berupa gagasan dan tawaran baru dalam kajian Living Alquran dan Hadis, sedangkan lima penelitian lainnya merupakan penelitian lapangan, karena berkaitan dengan keadaan sekitar. Bagaimana masyarakat meresepsi Alquran maupun hadis, sehingga hidup dan melekat dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dari enam penelitian tersebut, empat di antaranya sudah terpublikasi di jurnal, yakni:

Tradisi Shalawat Mansub Habib Sholeh Bin Muhsin Al-Hamid di Tempeh Tengah, Lumajang

Artikel ini ditulis oleh Rizqotul Luqi Mufidah dan Norma Azmi Farida (anggota CRIS F dari UIN Sunan Ampel Surabaya), yang telah terpublikasi di Jurnal Living Hadis, UIN Sunan Kalijaga bulan Mei 2020 lalu. Menurut cerita yang ada, shalawat mansub merupakan sebuah amalan hasil dari perjalanan spiritual Habib Sholeh yang bertemu dengan Nabi Khidir. Maka, untuk menggali lebih lanjut fenomena tradisi pembacaan shalawat mansub tersebut, penulis menerapkan teori dari Talal Asad bahwa Islam sebagai tradisi diskursif, dan teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Luckmann.

Sementara tiga artikel selanjutnya dipublikasikan oleh Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Alqudan dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga pada bulan Juli 2020, yakni:

The Meaning of the Reception of the Letters Muqatta’ah in Hizb al-Nasr by Abu al-Hasan al-Shadhili 

Paper tersebut ditulis oleh Dhur Anni (anggota CRIS F dari IKHAC, Pacet, Mojokerto) dan Lukman Hakim (anggota CRIS F dari Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga). Sebagaimana yang disinggung dalam judul tersebut, bahwa penelitian ini berfokus pada huruf muqatta’ah, yang sampai saat ini masih dianggap misterius pemaknaannya. Terlepas dari kemisteriusannya tersebut, muncul beragam pemaknaan dari para ulama. Abu al-Hasan al-Shadhili misalnya yang meresepsi ayat tersebut dalam kerangka fungsi performatif. Ia menggunakannya sebagai bagian dari zikir dalam hizb al-Nasr. Dalam mengkaji lebih dalam, penulis menggunakan pendekatan diakronik dan analisis sintagmatik yang diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure.

Kemudian, Performative Analysis of Rajah Syekh Subakir in Tawing Village, Trenggalek Perspective of Living Qur’an 

Artikel di atas ditulis oleh Nurul Himatil ‘Ula dan Senata Adi Prasetia (anggota CRIS F dari UIN Sunan Ampel Surabaya). Untuk mengurai fenomena penggunaan Alquran yang termanifestasikan dalam betuk rajah Syekh Subakir ini, penulis mengaplikasikan teori konstruksi sosial atas realitas (social construction of reality) Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Tujuannya untuk menemukan proses perubahan tradisi rajah yang merupakan hasil akulturasi dari budaya Jawa dan nilai-nilai ke-Islaman, pemaknaan masyarakat terhadap rajah, serta resepsi ayat-ayat Alquran sebagai rajah pager omah.

Terakhir, Charismatic Authority in the Tradition of Reading Hizb Hizb Hirz al-Jawshan

Tulisan yang oleh Halya Millati dan Miatul Qudsia (anggotan CRIS F dari Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya). Dalam penelitiannya ini, penulis menggunakan teori charismatic authority yang digagas oleh Marx Weber, untuk menganalisis siapa saja agent yang turut serta melestarikan hizb hirz al-jaushan ini, hingga sampai di pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-aat, Lirboyo, Kediri. Dan menariknya, hizb ini tidak hanya populer di kalangan Sunni, tapi juga Syiah yang dibaca setiap tanggal 21 Ramadhan untuk memperingati wafatnya ‘Ali bin Abi Tali. Untuk pembacaan lebih lanjut, silakan unduh jurnal tersebut di link yang sudah tersedia.

Sebagaimana yang disebutkan dalam visinya, CRIS Foundation bertekad melahirkan mahasiswa profesional, berpola pikir dinamis, ekskutif dan inovatif. Tentunya, dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan literasi; membaca, meneliti, menulis, dan mempublikasinya. Salam literasi!!!

-Miatul Qudsia-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *