Resensi Buku: Islam Revisionis Kontestasi Agama Zaman Radikal

Judul buku: Islam Revisionis Kontestasi Agama Zaman Radikal

Penulis: Mun’im Sirry

Cetakan: I/Februari 2018

Penerbit: Suka Press

Tebal: 278 halaman

 

Sebelum beranjak mengeksplorasi buku yang akan saya resensi ini, elok kiranya saya perkenalkan dulu siapa penulisnya, dengan harapan bisa menjadi motivasi untuk membaca sekaligus menjadi jembatan untuk memahami karya tulisnya. Mun’im Sirry adalah warga negara Indonesia bersuku Madura yang sukses menjalani studinya di luar negeri. Dari benua Asia hingga daratan Eropa. Puncaknya ia menjadi dosen di salah satu universitas ternama di Amerika, yaitu University of Norte Dame yang notabene dianggap sebagai universitas katolik terbaik di sana.

Jauh sebelum melanjutkan studi dan mengajar di Amerika, lulusan TMI Al-Amin Prenduan ini menamatkan studi strata satu dan duanya di Pakistan, yakni di Faculty of Saria’a and Law International Islamic University, Islamabad. Kala pertama kali ia menginjakkan kaki di bumi Pakistan masih berumur 18 tahun. Namun di dalam jiwanya mantap tertanam tekad yang sangat kuat serta mimpi yang sangat besar. Hal itu ia buktikan ketika dalam keadaan tak punya makanan sama sekali -dua sampai tiga hari hanya minum air merupakan hal biasa baginya- ia menyiasatinya dengan menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan. Hampir semua buku yang ingin ia baca, tuntas dikhatamkan. Sampai pada akhirnya ringakasan bacaannya tersebut diterbitkan sebagai buku berjudul, Sejarah Fiqh Islam: Sebuah Pengantar (1995). Ringakasan tersebut ia tulis saat menempuh semester tiga strata satu (hal. 122).

Setelah lulus dari Pakistan, ia melanjutkan studinya ke Amerika setelah berhasil mendapatkan beasiswa Fullbright. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Ia jalani studinya dengan tekun hingga pada puncaknya menjadi dosen dan mengampu mata kuliah studi agama-agama. Mun’im sirry merupakan seorang muslim pertama yang mengajar di Departement of Theology. Di mana departemen tersebut dianggap sebagai jantung dari University of Norte Dame. Selain menjadi dosen, Sirry juga mengoordinasi proyek penelitian di Kroc Intitute.

Dalam bukunya yang berjudul  “Islam Revisionis Kontestasi Agama Zaman Radikal” ini, Mun’im Sirry berusaha merevisi atau mengkaji ulang terkait pandangan tentang keislaman yang sudah paten dan diterima oleh pandangan umum. Kata revisionis yang menjadi poin pada judul buku ini terambil dari kata revisi yang berarti peninjauan kembali untuk perbaikan (hal. 5).

Buku ini terbagi dalam empat bagian dan memuat 63 pembahasan berbeda. karena memang tulisan ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan Mun’im sirry yang dimuat di Geotimes. Meskipun berbeda-beda, semua tulisan di dalamnya terbingkai dalam nuansa revisionis yang cukup menggugah logika berpikir.

Sirry banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan menohok yang bisa jadi membuat kaget pembacanya. Seperti, apakah wajah Islam saat ini sudah turun-temurun sejak zaman Nabi? Apakah Alquran lahir di Hijaz? Apakah Nabi Muhammad itu benar-benar seperti yang digambarkan oleh para sejarawan muslim?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, bagi sebagian kalangan mungkin dianggap mengada-ada dan merupakan ancaman yang dapat merusak akidah Islam. Bisa-bisa penanyanya dianggap kafir. Namun di sini perlu dijelaskan di awal bahwa pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dari sisi historisitasnya, bukan dari sisi teologisnya. Jadi murni aktifitas intelektual. Sirry sudah mengklarifikasi hal ini sedari awal ketika hendak membahas Muhammad dari sisi historisnya. Ia mengatakan bahwa hal itu semata-mata dari sudut pandang sejarah dan tak mengurangi keagungan Nabi Muhammad sebagai figur panutan dan sumber inspirasi umat Islam (hal. 9).

Berbeda dari yang lain, dalam bab pertama yang berjudul, Menuslis Sejarah Islam dari Pinggiran, sudah sangat kental sekali nuansa revisionisnya. Sirry berusaha membangun sejarah Islam dari sudut pandang yang lain. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak ingin menggunakan sumber-sumber dari kalangan muslim sendiri. Ia cenderung mencari sumber-sumber dari kalangan non-muslim yang pada masa-masa awal Islam mereka merupakan kelompok terpinggirkan.

Contoh, penyebutan “muslim” sebagai indentitas bagi “penakluk Arab” (pengikut Nabi Muhammad) sebagaimana kita pahami saat ini. Ternyata penyebutan tersebut baru dikenal pada abad ke-8 dan pertama kali ditemukan dalam buku Chronicle of Zuqnin yang ditulis pada tahun 775 Masehi. Barulah sejak itu, orang-orang Kristen mulai melihat adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa oleh kaum muslim dan menyebut mereka dengan sebutan muslim.

Sebelum-sebelumnya, identitas yang dilekatkan oleh orang-orang non-muslim kepada “penakluk arab” (muslim) bermacam-macam. Dalam literatur Suryani (Syriac literature) teradapat beberapa istilah untuk merujuk kepada orang Arab, yaitu “tayyaye” (suku Arab), “sarqaye” (Saracen), “mhaggraye” (anak Hajar) dan, “bnay ‘ishmael” atau “ishmaelaye” (keturunan Isma’il) (hal. 1).

Banyak sekali problem-problem yang dibahas dalam buku ini. Tidak hanya problem keyakinan, problem-problem sosial pun dibahas di dalamnya. Seperti LGBT, feminisme, pluralisme, radikalisme, politik takfiri dan lain-lain. Bahkan dalam satu bab terdapat judul “Islam Erotis”. Dalam bab lain juga dibahas tentang ulama-ulama homoseksual. Dan yang paling unik adalah bab “Ibnu Hazm dan Cinta Sejenis”. Dalam bab ini, Sirry mengatakan bahwa Ibnu Hazm pernah menaruh hati kepada seorang pemuda tampan.

Selain itu, buku ini juga membahas adanya benturan-beturan agama yang diwarisi secara turun temurun. Polemik-polemik keagamaan seperti kritik Alquran kepada Kristen, eksklusivitas dalam beragama baik dari kalangan muslim maupun kristiani. Bahkan kritik-kritik pedas yang dilontarkan terhadap Zakir Naik serta kotroversinya.

Terselip juga metode penafsiran teks, baik itu Alquran maupun Bibel, yakni filsafat hermeneutika yang mempertanyakan letak makna sebuah teks. Pembahasannya cukup kompleks, meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana dan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti oleh pembaca awam.

Sedikit saran bagi pembaca yang tertarik ingin membaca buku ini adalah menyediakan kamus Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Khususnya bagi kalangan yang baru saja bersentuhan dengan tema-tema semacam ini. Karena banyak sekali istilah-istilah tak umum yang dipakai oleh Mun’im Sirry dalam bukunya. Terkadang kamus Bahasa Indonesia pun tidak memadai, dan ketika hal tersebut terjadi maka solusinya adalah mencari dalam Kamus Bahasa Inggris.

Terkadang penulisnya mengadopsi kosa kata Inggris untuk dijadikan sebagai istilah. Seperti kata “redemtif”. Dalam kamus Bahasa Indonesia digital, kata itu tidak terdeteksi, Tapi ketika dicari dalam kamus Bahasa Inggris akan cocok dengan kata redeem yang berarti penebusan. Maka redemtif artinya bersifat penebusan. kata ini terdapat dalam pembahasan tentang kematian Yesus yang dianggap sebagai penebusan dosa.

Selain itu, bagi pembaca yang kurang menguasai Bahasa Inggris, mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami sebagian pembahasannya. Karena Mun’im Sirry sering sekali mengutip sebuah pendapat dalam Bahasa Inggris utuh dan tidak menerjemahkannya sama sekali.

Secara garis besar, pembahasan buku ini menekankan tentang pentingnya menerima perbedaan-perbedaan di zaman yang semakin heterogen dan kompleksnya problem yang dihadapi. Lebih menggunakan dialog yang sejuk daripada menggunakan cara-cara kekerasan ketika menyelesaikan sebuah permasalahan. Dan berani melangkah ke depan melupakan masa lalu untuk membangun perdamaian dunia dalam pluralitasnya. Buku ini sangat recommended bagi penggiat kajian studi agama-agama dan juga bagi kalangan yang merindukan keindahan hidup berdampingan dalam dunia yang aman dan damai.

Bismillah wal hamdulillah

 

Resensator: Maqdis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *