Pesan Gus Najih: Kolaborasi Polri dengan Ormas Keagamaan Merupakan Keniscayaan

Dalam diskusi yang bertajuk “PR dan Tugas Kapolri Baru”, Dr. M. Najih Arromdloni atau kerap disapa Gus Najih yang juga Founder CRIS Foundation didapuk menjadi salah satu pemateri pada acara tersebut. Acara ini diselenggarakan oleh 164 Channel PBNU dalamserial “Bicara : Menyerap Aspirasi Rakyat” pada Jum’at (29/01).

Sebagaimana diketahui bersama, penunjukan Komjen Listyo Sigit Purnomo oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kapolri baru menjadi harapan baru bagi masyarakat terhadap institusi polisi. Gagasan “presisi” kepolisisan masa depan yang diusungnya menuai pelbagai apresiasi sekaligus tantangan baginya. Setidaknya ada 16 program prioritas dan 8 komitmennya terhadap institusi kepolisian ini. Presisi adalah kependekan dari Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, dan Berkeadilan.

Gus Najih, dalam paparannya menyebutkan, “Dua sumber daya ini Nahdlatul Ulama dan Polri adalah sumber daya yang sangat besar di negeri ini. Dimana polisi mulai dari level Polri hingga Polsek, Babinkamtibmas. Begitu pula NU dari level PBNU hingga MWCNU bahkan tingkat ranting (desa). Saya rasa ini adalah sangat tepat untuk disinergikan guna mengawal keamanan bangsa dan negara. Maka sinergitas ulama dan umara, pemerintah degan civil society memang sudah layak dan seharusnya dilakukan”. Tutur Founder CRIS Foundation

Ia juga sangat mengapresiasi Kapolri Jend. Listyo yang mengawali miqot pertamanya ke PBNU. “Baru kali ini sepanjang sejarah berpuluh – puluh tahun Kapolri memulai kunjungan pertamanya ke PBNU”. Ungkap Gus Najih
Selain itu, dalam kelakarnya, “kaum santri atau yang berprofesi menjadi ustad ketika hendak menyamar sebagai polisi, maka akan ditangkap. Berbeda dengan polisi yang menyamar menjadi ustad, ia tidak ditangkap atau dihakimi. Ini kan tidak adil”. Sontak mengundang gelak tawa seluruh pemateri.

Menurutnya, tantangan Polri hari ini sangatlah dinamis. Dan memang seharusnya dan sudah tepat saya kira jika Kapolri yang baru mengusung gagasan “Presisi”nya.

Beberapa tantangan itu adalah maraknya kaum intoleransi yang terkesan dibiarkan. Kita tahu bahwa fenomena intoleransi yang digemakan sejumlah “oknum Dai” sangat meresahkan dan menancam integritas sosial dan bangsa Indonesia.

Lebih lanjut, ia juga menyitir untuk mengambil hikmah. “Mesir misalnya, terdapat Ikhwanul Muslimin. Ini sebenarnya hampir habis alias punah di masa pemerintahan Gamal Abdul Nasir. Lalu berganti pemerintahan, Anwar Sadat naik tahta menjadi Presiden, kemudian merangkul kembali IM. Dan kemudian IM selama berpuluh – puuh tahun bermetamorfosa dan beranak pinak”. Ungkap intelekual muda NU

“Pun, dari Arab Saudi, kaum salafi wahabi itu juga sebenarnya adalah kebutuhan penguasa untuk mendapatkan legitimimasi politik dari mereka. “Dalam konteks Indonesia, negara ita yang dibangun di atas asas kebhinekaan jangan sampai digerogoti oleh kaum intoleransi dan kawan-kawannya sehingga merongrong nilai – nilai kebhinekaan itu sendiri. Karenanya, ini harus menjadi pelajaran untuk kita semua”. Tandas Gus Najih yang juga sebagai Founder Tafsiralquran.id

Beberapa Tantangan

Gus Najih menyampaikan bebrapa poin penting di antaranya krisis kepercayaan di tubuh kepolisian. Misalnya tercatatnya beberapa jenderal polisi dalam beberapa kasus. Ini adalah patut menjadi perhatian Kapolri yang baru. Ekstrimisme dan terorisme saya rasa menjadi bagian dari tugas beliau yang sangat penting sebab ini menjadi tantangan yang serius dan berpotensi memecah persatuan bangsa dan keutahan NKRI.

Tantangan berikutnya adalah terdapat kegusaran diinternal polri terkait penunjukannya sebagai kapolri. Sebab Komjen Listyo meloncati lima angkatan kepolisian. Nah beliau harus membutuhkan bahwa beliau memang layak dipilih karena prestasi dan profesionalitasnya. Jangan sampai ada Presiden ketika ingin mejadi Kapolri modalnya adalah karena kedekatan politik. Dan PR Kapolri hari ini adalah reformasi kultural. “Saya rasa kritik Gus Dur terhadap Kapolri masih kontekstual bahwa ada tiga polisi yang jujur, yaitu Jenderal Hoegeng, polisi tidur dan patung polisi”. Ucap pengamat terorisme.

Beliau juga menyampikan, justru yang ditunggu oleh masyarakat dari polisi adalah ketegasan aparat keagamaan terhadap fenomena intoleransi dan radikal yang meremehkan dan mengusik kenyamanan dalam kehidupan beragama, dan bernegara.

“Tantangan berikutnya adalah bagaimana penindakan hukum tidak tebang pilih. Misalnya, tindakan terhadap aposisi sangat tegas, akan tetapi ketika dihadapkan pada pihak yang bersama pemerintah terkesan lembek meski pelanggaran hukumnya jelas. Saya rasa ini bagian daripada tantangan beliau ke depannya”. Ujar wakil sekretaris BPET MUI.

Rekomendasi Pendekatan

Beliau juga menganalisa bahwa pemerintah saat ini ada kecenderungan terkesan alergi terhadap keaduhan. Misalkan di tingkat bawah Kapolres, lebih memilih stabilitas sementara untuk meredam kegaduhan. Nah ini adalah solusi jangka pendek. Ini adalah pendekatan hard approach. Maka bukan tidak mungkin akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Karenanya kedua pendekatan hard approach dan soft approach sangat penting diseimbangkan.

Menculnya fenomena oknum pandai yang cenderung membid’ahkan bahkan mengkafirkan orang orang yang tidak sepaham dengannya di masjid-masjid besar adalah sebuah panjang dari pengkaderan kelompok intoleransi. Nah ini juga yang harus menjadi perhatian bersama, sebab memberantas hal ini snagat tidak bisa dilakukan hanya dengan hard approach, maka soft approach menjadi urgent untuk diterapkan.

Lebih dari itu, sebab tidak semua kaum intoleransi dan ekstrimis dapat diatasi dengan hukum atau hard approach, akan tetapi adapula hal-hal yang harus didekati dengan soft approach dan yang harus jalan, saya kira adalah unsur intelejennya.

Gus Najih juga memungkasi bahwa kolaborasi dan sinergitas polri dengan ormas-ormas keagamaan, lebih-lebih dengan Nahdhlatul Ulama sangatlah penting. Sebab ada ranah-ranah yang memang polri tidak bisa menjangkaunya, dan hanya bisa diakses oleh tokoh agama, begitu pula sebaliknya.

Oleh: Senata Adi Prasetia, Direktur CRIS Foundation.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *