Mengawal Peran Habaib Dalam Perjalanan Bangsa

Peran habaib dalam beberapa tahun terakhir terlihat mendominasi ruang kehidupan sosial-politik masyarakat kita. Kepulangan Habib Riziq Syihab (HRS) yang menimbulkan kerumunan massa di tengah merebaknya pandemi Covid-19 pun tak luput dari dominasi itu. Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation menyelenggarakan diskusi virtual pada Selasa (24/11/20) untuk membahas hal ini secara detail.

Dalam pers rilisnya, diskusi yang bertajuk, “Mengawal Peran Habaib dalam Perjalanan Bangsa” dengan menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Habib Abdillah Toha, Nusron Wahid, dan Ahmad Ginanjar Sya’ban.

Nusron Wahid menjelaskan bahwa fenomena-fenomena habaib ini memang pada satu sisi dzurriyatur rasul, pada sisi yang lain para habaib ini banyak yang berdakwah tapi tidak diimbangi dengan kapasitas keilmuan. Bahkan meminta penghormatan lebih kepada masyarakat.

Lebih dari itu, “pada satu sisi secara dzatiyah-syakhshiyyah habaib ini pantas untuk dihormati bahkan dimuliakan. Namun pada sisi yang lain apakah dzatiyah-syakhshiyyah ini
pantas dijadikan qudwah (teladan) ini juga harus dilihat dari dua hal, yaitu ilmu & kapasitas keilmuan serta akhlaknya.” Tukas mantan Ketum GP Ansor.

Sejarawan Nusantara, Ginanjar Sya’ban juga menyampaikan peran habaib sangat besar sekali dalam sejarah kebangsaan. Sebagaimana diketahui bersama dakwah Walisongo adalah akulturatif sebab mampu mendialogkan keluhuran nilai keislaman selaras dengan kearifan lokal yang ada di Nusantara serta tidak untuk dipertentangkan.

Dia juga berpesan kepada generasi sekarang, “jangan sampai kita generasi sekarang ini tampil sebagai identitas yang bertolakbelakang dari apa yang diajarkan oleh walisongo. Dan Walisongo itu adalah para asyraf, para habaib, para keturunan Nabi saw.”. Tandas dosen pascasarjana UNUSIA, Selasa (24/11/20).

Sementara Pendiri Partai Amanat Nasional, Habib Abdillah Toha, menjadi habib itu berat sekali. Terus terang saya agak risih apabila seorang habib meminta penghormatan lebih kepada masyarakat. Kehormatan seseorang itu bukan di sorbannya, bukan pecinya, melainkan akhlaknya, taqwanya, sesuai dengan ajaran Nabi Saw.

Beliau juga menyanyangkan sikap beberapa para habaib yang dalam khutbahnya selalu mengutip hadits rasul yang berisi anjuran untuk memuliakan ahl bait atau keturunan nabi saw dengan dalih agar orang mau menghormatinya.

“Gelar habib itu jangan kita yang memasang, biar orang lain yang memasang, jangan bawa-bawa politik atas nama habib sebab politik itu cair, dan tetaplah berakhlak dan rendah hati”. Pungkas pesan penulis buku “Buat Apa Beragama?”.

“Acara ini terselenggara sebagai bentuk keprihatinan atas fenomena seorang habib yang baru pulang dari “pengungsiannya” yang belakangan ini sikapnya cenderung “bertolakbelakang” dengan apa yang didakwahkan oleh Walisongo dan akhlak mulia Baginda Rasul saw.” Tutur Gus Najih Arromadloni, selaku pendiri CRIS Foundation.

By: Senata Adi Prasetia, Direktur CRIS Foundation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *