Membincang Idealisme Gerakan Pemuda Hari Ini

Idealisme gerakan pemuda hari ini masih sangatlah perlu untuk dibahas. Mengingat suatu negara bagaimanapun bentuknya, bagaimanapun cita-citanya, generasi penggeraknya adalah pemuda. Sebelum membahas tentang idealisme gerakan pemuda ini, perlu kita ketahui terlebih dahulu definisi dari idealisme itu sendiri. Menurut KBBI idealisme diartikan dengan aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan, meskipun tidak sesuai dengan kenyataan. Idealisme dapat juga berarti ingin mencapai suatu keinginan, cita-cita atau harapan dengan hasil sebaik mungkin.

Idealisme dapat berjalan mulus jika ia tidak berbenturan dengan problematika sifat-sifat yang lumrah pada diri manusia, seperti egoisme, pragmatisme, apatis, dan lain sebagainya. Selain itu faktor lain penghambat seorang pemuda untuk mengembangkan potensinya adalah terbenturnya aspek globalisasi dan juga aspek akulturasi budaya.

Lalu bagaimana menurut kacamata Gus Dhofir mengenai fenomena gerakan pemuda di zaman dahulu dan zaman sekarang?

Menilik kembali hasil sumpah pemuda pada tahun 1928 lalu yang menyatakan bahwa Indonesia bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan bertanah air satu, tanah air Indonesia. Hal ini secara tidak langsung telah mencerminkan bahwa para pemuda di zaman tersebut telah membentuk suatu idealisme. Kegigihan untuk membentuk “bangsa Indonesia” dengan semangat membara meskipun saat itu Indonesia belumlah terbentuk. Namun sudah menjadi cita-cita kuat dan diwujudkan dengan darah juang para pemuda juga dibantu dengan doa para wali sehingga idealisme tersebut dapat terwujud menjadi sebenar-benarnya “bangsa Indonesia”.

Jika dikontekskan dengan kondisi kekinian bangsa Indonesia dalam bingkai kemerdekaan dan kebinekaan, kita tidak sadar bahwasanya kita telah dikepung dari berbagai penjuru oleh tantangan era disupsi ini. Keadaan ini bisa disebut dengan  “the end of expertice” atau matinya kepakaran. Kita harus sadar bahwa kondisi pemuda bangsa kita hari ini sedang mengalami disrupsi, baik dari sektor sumberdaya manusia, religiusitas serta yang paling riskan yakni dari segi ideologi. Lihat saja, pada abad ke 18. Sumber daya manusia yang berupa tenaga manual di bidang industri telah bergeser menjadi tenaga mesin. Pada abad ke 19, Sumber daya manusia bergeser menjadi elektrik. Pada abad ke 20 Sumber daya manusia bergeser digantikan oleh komputer. Era ini juga dapat disebut dengan era komputerisasi. Dan terakhir di abad 21 ini sumber daya manusia tergerus dan digantikan oleh canggihnya Internet di mana segala pekerjaan menjadi lebih praktis dan hemat waktu.

Sebenarnya dengan adanya tantangan ini, manusia tidak boleh menjadi pribadi yang pesimis karena segala aktivtas manusia telah diubah menjadi serba praktis. Justru sebuah tantangan juga bisa dijadikan peluang bagi pemuda saat ini untuk mengembangkan sebaik mungkin apa yang telah disusun guna memajukan bangsa ini.

Karena disrupsi yang paling riskan adalah serangan dalam sektor ideologi, seyogianya bagi para pemuda, upaya yang dapat diusahakan untuk memperkuat benteng pertahanan adalah dengan kembali bermuhasabah, apa sebenarnya amanah dari sebuah konstitusi di negara kita ini? Apa tujuan negara Indonesia ini dibentuk? Maka jawaban semuanya ada di dalam nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Terutama adalah dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana upaya kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? Tidaklah mungkin bagi kita dapat memperbaiki segala sektor yang telah tergerus oleh disrupsi ini, Oleh karena itu, menurut pengasuh Pesantren Baitul Hikmah ini ditegaskan bahwa:

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا ࣖ ٨٤

Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Suatu perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu (ابدأ بنفسك ) lalu, dimulai dengan hal-hal kecil (ابدأ بالصغير), seperti belajar tepat waktu, disiplin, memperkaya literatur, berusaha banyak mendengar daripada berbicara. Sebab saat ini banyak sesorang yang gemar berbicara di luar batas kapasitas keilmuannya tanpa mau mendengar, dalam artian tidak dapat mengahargai pendapat orang lain. Tidak cukup dengan dua upaya tersebut. Selanjutnya mulailah hal-hal baik dari sekarang (ابدأ بالآن). Tidak cukup dengan memulai saja, tetapi perubahan hal-hal baik tersebut harus dilakukan secara kontinu.

Janganlah kita mengira bahwasanya Indonesia telah benar-benar merdeka. Ya, Indonesia memang telah merdeka secara politik, namun Indonesia belum merdeka secara sumber daya masyarakatnya, juga dalam segi ideologi, Indonesia belumlah sepenuhnya merdeka. Maka dari itu sebagai pemuda, hendaknya kita menumbuhkan jiwa-jiwa idealisme dalam diri dengan diiringi esensi intelektualitas yang berkiblat pada nilai-nilai Pancasila. Meskipun kita tidak dapat 100% mengaplikasikan nilai-nilai pancasila juga tidak mungkin kita dapat membuat perubahan besar 100% dalam era disrupsi ini, maka jalankanlah perubahan tersebut secara semampunya (مااستطعتم) dan dapat dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Lantas, bagaimana dengan para santri dapat menggapai idealismenya, mengingat kita telah sampai di era serba internet? Menurut  pengarang buku “Nabi Muhammad Bukan Orang Arab” ini, sebagai seorang santri hendaknya agar tetap belajar dengan semaksimal mungkin, hingga jenjeng belajarnya tuntas. Tidak perlu risau dengan terhalangnya segala aktivitas di dalam pesantren tanpa adanya internet. Setelah tuntas mencari ilmu di jenjangnya dengan membawa hasil yang totalitas. Lanjutkanlah dengan studi di perguruan tinggi. Banyak-banyaklah membaca literatur turath, klasik hingga kontemporer. Perbanyaklah diskusi, riset, berupaya mengumpulkan data sebanyak mungkin. Jika hal tersebut dapat dilakukan oleh segenap generasi muda, dari situ terbentuklah generasi bangsa yang cerdas. Sebab dikatakan dalam sebuah maqalah

حياة الفتى والله بالعلم و التقى

Kehidupan seorang pemuda adalah dengan ilmu dan ketakwaan.

Menjadi seorang pemuda, haruslah memiliki pandangan yang luas, pandangan pemikiran yang mendunia (weltanschauung). Hal tersebut segalanya hanya dapat diraih dengan ilmu. Merupakan ciri pemuda yang visioner, jika ia gagal maka ia akan cepat bangkit dan segera melupakan masa lalunya. Jika ia menang dalam waktu cepat, maka segeralah dia meninggalkan keadaan tersebut dan bangkit untuk membangun inovasi-inovasi yang selanjutnya.

Dalam webinar yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 2020, beliau memberikan closing statement, bahwa :

“Sebaik-baik pemuda adalah pemuda yang memiliki peradaban baru, dan seburuk-buruk pemuda adalah pemuda yang hanya membanggakan prestasi dari nenek moyangnya terdahulu”

Mulailah hal hal baik dengan diri sendiri (ابدأ بنفسك ), kemudian mulailah dengan hal-hal kecil (ابدأ بالصغير ) dan mulailah dari sekarang (ابدأ بالآن  ) Tidak cukup hanya dimuali dari sekarang saja, namun perubahan tersebut harus dilakukan secara continue (terus menerus) dan secara berkualitas.

Nadia Saphira

Malang, 30 Oktober 2020

Webinar spesial CRIS edisi Hari Sumpah PemudaWebinar spesial CRIS edisi Hari Sumpah PemudaWebinar spesial CRIS edisi Hari Sumpah Pemuda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *