Filsafat Jawa: Falsafah Hidup Jawa Ala R.M.P. Sosrokartono

“Tanaman membutuhkan air dan udara untuk pertumbuhannya, ia tidak berubah menjadi air atau udara, sedang ia tetap mengikuti jalan pertumbuhannya sendiri. Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapapun, yang berniat menjadikan kita orang Eropa dan menginjak-injak adat istiadat dan kebiasaan kita yang suci. Selama matahari dan bulan bersinar, mereka akan saya tantang!”

Itu adalah penggalan pidato Raden Mas Panji Sosrokartono berjudul “Het Nederlandsch In Indie” pada Kongres Bahasa dan Sastra di Belgia tahun 1899. Sebuah pembuktian intelektualitas seorang Sosrokartono di usianya yang baru 22 tahun telah menjadi pembicara kongres Internasional.

Lalu, siapakah Sosrokartono yang begitu agung dengan pidatonya di atas?

Tak banyak yang tau, Sosrokartono adalah kakak kandung dari tokoh pejuang emansipasi wanita, R.A Kartini. Putra seorang bupati Jepara, yang karena nasabnya mendapat kesempatan untuk belajar di Belanda. Orang Jawa pertama yang mendapat gelar Docterandus in de Oostersche Talen di Belanda setelah sebelumnya keluar dari Polytechnische School di Delft karena merasa tak cocok. Juga seorang poliglot dengan 41 penguasaan bahasa asing.

Sejak kecil, Sosrokartono dikenal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. 26-28 tahun hidupnya dijalani sebagai pengembara di tanah Eropa. Selama masa pengembaraan ini Sosrokartono sempat menjadi wartawan Perang Dunia I dan berhasil meliput perjanjian damai Jerman-Prancis, yang tidak seorangpun bisa melakukannya. Kemudian ia mendapat panggilan hati untuk kembali ke tanah air dan menetap di Bandung.

Sosrokartono merupakan filsuf Jawa yang semasa hidupnya tidak pernah jauh dari kekhasan Jawa. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Jawa yang memegang agama dan budaya kejawen. Gagasan-gagasannya bersifat teosofis karena sosoknya yang sangat lekat dengan budaya Jawa, tapi juga seorang yang agamais dengan sufistik sebagai jalan hidupnya.

Pemikiran filsafatnya dimulai dengan hakikat manusia. Pertama, hakikat manusia  ia gambarkan dalam ungkapan “Mandor Klungsu”. Yang berarti menjadi manusia haruslah bermanfaat di semua levelnya, sama halnya “klungsu” atau pohon asem yang bermanfaat, kokoh dan rindang yang melambangkan manusia sebagai peneduh bagi sesama. Kata “mandor” sendiri berarti pekerja, buruh dan bukan pemilik. Dalam artian hakikat manusia yang harus bermanfaat, kokoh dan meneduhkan semata hanya menjalani perintah dan dipersembahkan kepada yang memiliki, yaitu Allah. Dalam bahasa Sosrokartono, “Kula dermi ngelampahi kemawon, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaaken dateng Gusti”

Hakikat manusia yang kedua digambarkan Sosrokartono dalam ungkapan Joko Pring. “Joko” menyimbolkan semangat, kemudaan dan ghirah. Sementara “pring” melambangkan kemanfaatan,  sama halnya klungsu. Keberagaman jenis pring melambangkan keragaman jenis manusia yang secara fisik mungkin berbeda, tapi hakikatnya sama, yaitu manusia. Pada akhirnya, sebagai manusia yang hakikatnya sama, harus saling mengingatkan. “Susah padha susah, seneng padha seneng, eling padha eling, pring pada pring.”

Kemudian Sosrokartono menjelaskan epistem atau jalan untuk menjadi manusia yang seutuhnya dengan pengenalan diri. Dalam artian menjadi Jawa Bares atau Jawa yang seutuhnya. Yaitu dengan menjadi murid kehidupan, gurunya adalah kehidupan dan pelajarannya adalah penderitaan sesama. Puncaknya, tujuan akhirnya adalah menjalani kehidupan yang indah bersama orang lain dan mengabdi sebagai hamba Tuhan yang semestinya.

Lebih jauh, pemikiran-pemikiran Sosrokarto lebih banyak tertuang dalam bentuk nasihat-nasihat yang kemudian dikenal dengan istilah falsafah hidup jawa. Di antara yang paling populer adalah sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, trima mawi pasrah. Kesemuanya berisi nasihat-nasihat untuk menjadi manusia nan arif dan kasih terhadap sesama yang berujung dengan kedamaian dan ketenangan jiwa. Muthmainnah versi Islam. Anteng, mateng, sugeng dan jeneng versi Sosrokartono.

Oleh: Nurul Himatil ‘Ula

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *