Catatan Perjalanan CRIS di Jakarta

CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation mengawali semester ganjil tahun ini dengan melakukan rihlah ilmiah ke berbagai media di Jakarta mulai tanggal 30 Agustus-1 September 2019. Destinasi yang dituju antara lain: sekretariat bincangsyariah.com, harakatuna.com, alif.id dan kantor Islam Nusantara Center.

Kali pertama menginjakkan kaki di Ibu Kota, kami langsung memesan jasa transportasi online menuju kantor redaksi bincangsyariah.com di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Salah satu website keislaman di Indonesia yang paling populer ini dikelola oleh El-Bukhari Institute, lembaga kajian yang berada di bawah naungan Darus Sunnah.

Bersama bincangsyariah.com, kita berbincang-bincang santai membahas media keislaman. Mulai dari “ceruk” garapan yang menjanjikan sampai tantangan akan persaingan dengan media-media Islam garis keras. Tulisan yang bertemakan tafsir mimpi dan karomah ulama misalnya, media Islam garis keras relatif enggan memasuki ranah tersebut, padahal banyak masyarakat di luar sana yang berkebutuhan dengan tema ini. Tugas kitalah untuk memaksimalkan potensi tersebut.

Seusai membincangkan banyak hal, pimpinan redaksi bincangsyariah.com menawarkan pada kami kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak (simbiosis mutualisme). Ia melihat CRIS dipenuhi mahasiswa berlatar belakang tafsir Alquran, sehingga sangat berkompeten untuk mengisi konten tafsir di website mereka. Tawaran ini pun langsung ditanggapi serius oleh teman-teman CRIS yang pada awalnya memang punya niatan fokus menulis tafsir kedepannya. Disepakatilah kerjasama ini dengan CRIS mengirim sejumlah tulisan mengenai tafsir surah-surah pendek tiap bulan untuk diposting dan pihak bincangsyariah.com memberikan sejumlah reward untuk itu.

Sepulang dari sekretariat bincangsyariah.com, kami “sowan” ke Gus Zainul Milal dan timnya di Islam Nusantara Center yang terletak di sekitaran kawasan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis buku best seller ‘Masterpiece Islam Nusantara’ itu mengungkapkan pada kami rahasia lembaga yang baru dua tahun didirikannya itu bisa sukses dan berkembang pesat seperti sekarang. INC menurutnya, memiliki karakteristik dan identitas kuat sebagai pusat kajian sejarah manuskrip, ulama dan perkembangan dakwah Islam di bumi Nusantara. Sehingga menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin belajar sejarah Islam di Indonesia.

Selanjutnya, untuk memudahkan akses ke berbagai sumber sejarah tersebut, tentu sangat diperlukan jaringan yang luas pula. Cara ini juga yang digunakannya dalam memperkaya narasumber kajian rutinan. Sedang dalam setiap kajian, Gus Milal beserta tim pelaksana tidak pernah ambil pusing bila peserta yang hadir sedikit. Yang penting katanya, kajian tetap istiqamah dan terdokumentasi dengan rapi.

Memperhatikan buku-buku karya Gus Milal yang relatif berukuran tebal dan “berat” dari segi bobot pembahasannya, salah satu teman kami menanyakan tips semangat menulis pada beliau. “Besarkan motif menulis. Jangan hanya sekadar menulis, tapi pikirkan bahwa ketika kamu menulis, kamu sedang memikul tanggung jawab negara dan umat”. Jawabnya.

Sebelum pamit, kami ditawarkan oleh salah satu tim Gus Milal untuk “menculik” beliau ke kajian malam Jumat kami akhir bulan ini, karena kebetulan ketika itu pada siang harinya beliau ada agenda di Surabaya dan lengang pada malam hari. Alhasil, semua tidak sabar menunggu kedatangan beliau pada kajian kami nanti.

Keesokan harinya, Sabtu (31/8) kami berencana bertemu dengan founder dari alif.id, Mas Hamzah Sahal untuk belajar bagaimana ia memanajemen website-nya tersebut. Untuk diketahui, alif.id tidak memiliki kantor redaksi layaknya media-media lain. Sidang redaksi dan komunikasi lainnya dilakukan via grup WhatsApp dan semua itu dapat berjalan lancar. Domisili para karyawannya pun saling berjauhan. Akan tetapi di balik itu semua, mereka tetap bisa kompak, profesional dan mampu bersaing dengan media lain yang terlihat lebih “mapan”. Karena itu pula, pertemuan kami dengan Mas Hamzah “menumpang” di kantor redaksi NU Online, lantai empat gedung PBNU.

Sepulang dari kantor PBNU pusat, kami beranjak ke markas media yang senantiasa aktif bergerak menghadang pemikiran-pemikiran radikal perusak agama dan bangsa yang selalu merongrong keutuhan NKRI. Media itu bernama harakatuna.com.

Di sela-sela diskusi, salah seorang dari kami bertanya seberapa urgent ahli IT bagi eksistensi sebuah media online. Maklum karena di CRIS sendiri belum ada yang mumpuni dalam bidang IT untuk menangani website. Ini kemudian dijawab langsung oleh Mas Faizi Zainu, CEO harakatuna.com. Ia menyatakan, “Tim IT adalah dapurnya sebuah media online”.

Mas Faizi lantas menyontohkan media yang dikelolanya itu. Beberapa bulan lalu, katanya, harakatuna.com masih tercecer di peringkat 70.000-an dalam skala nasional, tapi setelah praktisi IT yang benar-benar profesional dan ahli di bidanya masuk ke dalam redaksi, website mereka sekarang mampu bertengger di peringkat 8.000 besar. Tugas dari tim IT sebuah website, lanjutnya, diantaranya adalah membuat setiap tulisan SEO (Search Engine Optimization) friendly sehingga mudah diakses via mesin pencari seperti Google.com serta memberi pengamanan maksimal pada database.

Di akhir, kami pun diminta untuk ikut meramaikan konten-konten anti radikalisme di website mereka.

Demikian laporan singkat kegiatan CRIS di Jakarta selama 30-1 September 2019. Semoga rangkaian kunjungan CRIS ke beberapa media top ini mampu memberikan angin segar bagi progress literasi dan website kebanggan kita, yakni crisfoundation.com. Sampai jumpa di kegiatan berikutnya. Salam literasi!

Oleh: Lukman Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *