Catatan dan Ringkasan Materi “Sekolah Tafsir Alquran 2020”

Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation telah mengadakan Sekolah Tafsir Alquran 2020 pada tanggal 11-12 September 2020 lalu dengan mengangkat tema, “Euforia Diskursus Al-Qur’an di Ruang Digital: Peluang dan Tantangan“. Kegiatan yang dilaksanakan via aplikasi zoom meeting ini diikuti tidak kurang dari 60 peserta yang sebagiannya termasuk para calon anggota baru CRIS. Terdapat lima sesi dalam Sekolah Tafsir Alquran. Satu di antaranya merupakan sesi pengenalan tentang komunitas, sementara empat sesi lainnya terkait materi seputar dunia tafsir. Berikut ringkasan masing-masing materi:

Pengenalan CRIS Foundation

(Oleh: M. Najih Arromadloni M.Ag)

Center for Research and Islamic Studies atau yang lebih dikenal dengan CRIS Foundation merupakan komunitas yang berfokus pada penelitian dan kajian Islam interdisipliner. Komunitas ini lahir dari sebuah komunitas sederhana terkait diskusi komunal mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2012. Hal tersebut muncul dan berkembang dikarenakan keresahan mahasiswa terhadap lingkungan akademik yang kurang mendukung dalam perkembangan intelektual. Selain itu, kecenderungan pragmatis, lemahnya penulisan, dan pengembangan kajian menjadi pendorong tetap eksisnya komunitas ini. Berikut beberapa program yang diselenggarakan oleh CRIS Foundation, antara lain:

Program pengembangan akademik CRIS Foundation

  1. Pelatihan metodologi penelitian
  2. Pelatihan penulisan artikel ilmiah
  3. Wisata literasi
  4. Penbentukan skill public speaking
  5. Seminar nasional dan internasional

Program bantuan sosial masyarakat

  1. Santunan anak yatim
  2. Perpustakaan keliling
  3. Pengabdian masyarakat

Sebagai sebuah wadah pengembangan intelektual, CRIS Foundation memiliki visi untuk menjadi wahana pembelajaran literasi dan riset interdisipliner mahasiswa yang bermanfaat, bukan hanya pada komunitas sendiri, tetapi juga masyarakat lain. Oleh karenanya, untuk mewujudkan hal tersebut, CRIS Foundation memiliki beberapa misi, diantaranya: Membekali keahlian metodologi riset dan kepenulisan kepada mahasiswa, menggelorakan semangat riset dan publikasi mahasiswa, dan menyelenggarakan aktivitas akademik strategis.

Melalui berbagai upaya tersebut, CRIS Foundation telah berhasil berkembang dan memiliki anggota diberbagai wilayah di Indonesia. Adapun cakupan keanggotaan CRIS Foundation menyebar diberbagai tingkat perguruan tinggi, seperti strata satu, dua, tiga, dan para akedemisi lainnya yang berfokus pada Islamic studies.

Keberadaan CRIS Foundation yang hadir di era perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi ini, memberikan manfaat dan juga tantangan tersendiri terhadap aspek yang menjadi fokus oleh komunitas.  Adapun manfaat yang dapat dirasakan adalah adanya kemudahan dalam mendapatkan informasi untuk bahan kajian, memudahkan belajar, berkomunikasi dan kemudahan lainnya. Hal ini juga dapat memberikan peluang bagi kalangan akademisi yang masuk kedalam CRIS Foundatin untuk mempublikasikan karya mereka, pemikiran mereka, yang memang sesuai dengan ranah intelektual masing-masing anggota.

Sedangkan tantangan yang perlu diperhatikan saat ini adalah semakin maraknya pendakwah yang menyelipkan hal-hal berbau provokasi, yang dapat menimbulkan perpecahan, khususnya agama. Oleh karenanya, sebagai akedemisi kita dituntut untuk meluruskan pemikiran tidak tepat tersebut. Apalagi dengan perkembangan media yang semakin eksis ditengah masyarakat. Hal ini harus kita manfaatkan untuk melawan pemikiran-pemikiran ektrim yang dapat menghalau integritas umat beragama dan berbangsa. Inilah yang dapat kita sebut sebagai peluang untuk memperbaiki kondisi umat masa kini.

Mas Najih mengisi STQ 20
Mas Najih mengisi STQ 20

Pemetaan, Model, dan Analisis Penelitian Al-Qur’an dan Ilmu Tafsir Pada Era Media Sosial

(Oleh: Dr. Phil, Sahiron Syamsuddin, MA)

Pendekatan

Secara garis besar, pendekatan dalam konteks tafsir memiliki arti sebagai sebuah perspektif peneliti dalam menganalisis dan mengamati data-data mengenai literatur tafsir. Adapun pendekatan-pendekatan yang dapat dibawa dalam rana penafsiran antara lain :

  1. Pendekatan kritik teks (textual criticism)

Pendekatakan ini bertujuan untuk mengetahui otentisitas sebuah teks, atribusinya, serta bentuk aslinya dalam sebuah teks tafsir. Dalam pendekatan ini, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan, berikut langkah-langkah pendekatan kritik teks:

  • Recension (resensi) pengumpulan teks-teks paling awal jika memiliki beberapa variasi
  • Examination (pengujian) kajian dan analisis terhadap variasi teks.
  • Emandation (perbaikan) pengembalian teks terhadap bentuk otentik
  • Edition (pengeditan) editing terhadap seluruh teks

Salah satu contoh penggunaan pendekatan kritik teks yaitu penelitian Andrew J. Lane yang berfokus pada karya al-Zamakhsyari yakni tafsir al-Kasysyaf. Ia mendapati ada 843 manuskrip dan hanya melakukan kajian terhadap 204 manuskrip. Adanya beberapa manuskrip tersebut memiliki perbedaan dan perbedaan tersebut dibahas dengan pendekatan textual criticism sehingga mendapatkan teks yang mendekati kebenaran.

      2. Pendekatan Intrepretatif (Interpretative Approach)

Pendekatan ini memiliki tujuan untuk memberikan penjelasan terhadap teks tafsir yang sedang dibahas. Pada dasarnya, seseorang yang melakukan pendekatan ini, menerima teks yang ia teliti dengan apa adanya tanpa melakukan komparasi seperti pada pendekatan kritik teks. Pendekatan ini dapat dibagi kedalam dua sub, yang pertama adalah sub historis dan kedua sub sastrawi. Penjelasan dari masing-masing sub dapat dipahami sebagai berikut:

  •  Pendekatan historis

Dalam pendekatan ini, aspek-aspek historis yang meliputi teks tafsir diteliti. Seperti kondisi sosial penyusunan teks tafsir, perkembangannya, dan keterpengaruan pengarang oleh pengarang sebelumnya. Contohnya, Na’im al-Himshi dalam “Ta>ri>kh Fikhrat I’ja>z al-Qur’a>n”, dan Issa J. Boullata dalam “The Rhetorical Interpretation of the Qur’an”, mengkaji asal-usul dan perkembangan konsep kemu’jizatan Al-Qur’an sejak masa Rasulallah SAW hingga masa modern. al-Himshi juga melakukan penelitian terhadap alasan mengapa konsep tersebut menjadi salah satu perhatian ulama islam pada masa klasik.

  •  Pendekatan sastrawi

Melakukan Pemahaman terhadap simbol-simbol bahasa pada sebuah teks baik yang bersifat implisit maupun eksplisit  merupakan salah satu cara yang digunakan oleh pendekatan ini untuk mendapatkan pengetahuan informasi dari teks tafsir. Dalam hal ini, seseorang dapat menggunakan berbagai sudut pandang untuk menganalisa produk penafsiran tersebut, seperti sudut pandang filosofis, psikologis, sosiologi, politik, dan lain sebagainya.

Perlu diketahui, bahwa dalam melakukan penelitian, analisa menjadi salah satu aspek yang penting dan harus diperhatikan. Salah satu analisa yang dapat di gunakan dalam penelitian teks tafsir adalah analisa deskriptif (Descriptive analiysis). Dengan analisa tersebut peneliti dapat memparafrasekan poin penting dalam teks, peneliti juga dapat memberikan komentar agar pembaca dapat mengambil nilai relevan dari tafsir tersebut.

Dari berbagai macam pemaparan mengenai penelitian terhadap teks tafsir, dapat diamati jika pendekatan kritik teks atau yang disebut textual criticism banyak digunakan oleh kalagan akademisi strata dua dan tiga. Di mana dalam penerapannya membutuhkan banyak bahan penelitian untuk mendapatkan kebenaran. Sedangkan pendekatan interpretative atau Interpretative Approach lebih banyak dilakukan oleh kalangan akademisi strata satu, yang mudah untuk dipahami. Untuk publikasi yang dilakukan tentunya bukan hanya melalui media cetak saja, melainkan juga melalui media sosial yang berhubungan dengan network sebagai ciri khas pada zaman ini.

Pak Sahiron Syamsuddin mengisi STQ 20
Pak Sahiron Syamsuddin mengisi STQ 20

Tafsir Al-Qur’an Indonesia Pada Era Media Sosial: dari Legitimasi hingga Kontestasi

(Oleh: Dr. Islah Gusmian, M.Ag)

Kita berada dalam fase The Death of Expertise and The Death of Author “Matinya pengarang dan matinya kepakaran”

Dalam publikasi penafsiran, era media sosial mengalami peningkatan semangat keagamaan untuk memberikan berbagai penjelasan mengenai agama, khususnya agama islam. Hal ini memberikan ruang kepada masyarakat umum untuk menyebarkan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Inilah yang menjadi problematika intelektual dikarenakan kredibilitas tulisan yang dimuat dalam media sosial dipertanyakan. Oleh karena itu, para akademisi dituntut untuk turut bergabung dalam perkembangan informasi dan komunikasi. Sehingga, penafsiran-penafsiran yang tidak sesuai dapat diluruskan pada makna sentral.

Dalam menjalankan tugasnya tersebut, akademisi harus berusaha untuk menyajikan sebuah tulisan yang singkat, lugas, dan mudah dipahami sebagai komsusi masyarakat awam. Tulisan tersebut dapat dipublikasikan melalui berbagai media mainstrem yang banyak digunakan oleh masyarakat, sehingga mengefisiensikan pemaparan dan memperluas cakupan sasaran.

Ketika ditinjau berdasarkan pengertiannya, perlu dipahami bahwa penafsiran yang secara teknis dipublikasikan melalui media massa seperti majalah, koran, jurnal serta media cetak lainnya mengalami perubahan bentuk bidang baca menjadi lebih modern dengan menggunakan teknologi electronic sources. Hal ini dapat ditemukan diberbagai platform penyedia sumber-sumber ilmiah. Namun, perlu dipahami bahwa kebanyakan mereka yang mengamati betul-betul sumber adalah para akademisi, sedangkan masyarakat awam lebih memilih untuk menggunakan platform lainnya ang dianggap lebih mudah, khususnya di aspek kebahasaan.

Ciri-Ciri Tafsir Media Sosial

  1. Ditulis dalam platform tertentu, seperti facebook, twitter, instagram dan lain sebagainya
  2. Mengikat seseorang dalam suatu kolaborasi yang terkoneksi
  3. Dapat dikelola oleh perorangan
  4. Terjadi pertukaran informasi dan informasi dari dua arah melalui isi pesan berbasis web
  5. Bukan hanya menjelaskan teks tetapi banyak juga yang mengkaitkannya dengan realitas sosial politik
  6. Metode dan teknik penulisan beragam
  7. Beberapa merupakan representasi dari realitas matinya pengarang

Beberapa contoh kasus tafsir media sosial

  1. Tafsir yang ditulis oleh Salman Harun yang mirip status di facebook, tafsir tersebut ditulis dengan metode penulisan yang bebas
  2. Tafsir yang disebar dalam bentuk pamflet, baik secara fisik maupun gambar. Hal ini dapat diketahui lewat peristiwa “Aksi Bela Islam 212”
  3. Tafsir yang ditulis oleh Tengku Zulkarnain dalam sebuah cuitan di twitter.
  4. Tafsir yang dibentuk menjadi infografis, dapat disebar luaskan melalui berbagai platfrom, khususnya instagram.
Pak Islah Gusmian mengisi STQ 20
Pak Islah Gusmian mengisi STQ 20

Living Qur’an: Teori dan Praktiknya dalam Ruang Digital Kekinian

(Oleh: Ahmad Rafiq, M.Ag. Ph.D)

Living qur’an dapat dipahami sebagai representasi masyarakat dari pemahaman terhadap teks-teks Al-Qur’an yang dibawa kedalam realitas kehidupan. Manusia sebagai subyek yang aktif melakukan resepsi, dan Al-Qur’an yang diposisikan menjadi sebuah objek, memberi ruang terhadap manusia untuk membawa teks tersebut kedalam realitas. Hal tersebut merupakan wujud dari penghubungan diri terhadap kitab suci (relational) yang dipercaya oleh masyarakat.

Adapun kitab suci disebut relational, dari perspektif antropologi, melahirkan fungsi informatif dan performatif yang dapat berhubungan. Dalam pemahamannya, Informatif lebih menekankan pada penangkapan pesan dari teks, sehingga dapat menimbulkan penafsiran. Sedangkan performatif berhubungan dengan bagaimana kitab suci melahirkan perilaku yang dapat melahirkan kebudayaan dan tradisi. Living lebih dekat terhadap performatif karena secara garis besar memiliki hubungan dengan kebudayaan, sosial, dan tradisi dari suatu masyarakat yang mengimplementasikan kepercayaan mereka terhadap nilai-nilai kehidupan. Untuk memahami lebih lanjut, berikut beberapa pengertian dan konstruk teori living yang perlu dipahami:

Living – living text, religion, Islam

  1. Anthropology (teks hidup) –savage grouptribal group (antropologi semakin berkembang, berhubungan dengan banyak kelompok yang mencakup kelompok luas)
  2. New anthropology (Perkembangan tersebut menghadirkan berbagai cakupan yang baru dan membuat penipisan antara antropologi dan sosiologi)

Living scripture – obyek -perilaku atau pikiran (teks dapat eksis karena reader)

Contoh yang sederhana yang sudah dipahami adalah adanya studi agama, dimana peneliti akan membawa teks-teks keagaman tersebut tetap hidup sebagai sebuah sumber untuk dapat memperoleh nilai kerelevansian terhadap perkembangan zaman.

Living Quran dalam ruang digital

Cyber Islamic Environments merupakan istilah yang digunakan oleh Gary R. Bunt untuk mengamati fenomena keberadaan islam dan muslim di dunia maya. Umat muslim yang tentu menggaet agama islam selain mengalami presentasi dan representasi realitas kehidupan. Kini juga mengalami presentasi dan representasi di dunia maya, sebagai imbas dari perkembangan iptek.

Selain menjadi sebuah istilah fenomena, CIE (Cyber Islamic Environments) juga digunakan sebagai pendekatan dengan mencoba memahami ruang digital, pengetahuan dan ekpresi islam, bagaimana komunitas islam berkomunikasi, berdialog dan menyesuaikan diri dalam konteks lokal, regional maupun global.  Pemahan lebih lanjut mengenai CIE dapat ditemukan lewat buku Gary R. Bunt yang berjudul “Islam in the Digital Age: E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Islamic Environment” dan “Hashtag Islam

Dengan adanya perkembangan teknologi, informasi, komunikasi. Ranah tafsir menjadi lebih luas dan dapat dipadatkan menjadi tiga ranah penafsiran. Pertama, lay-exegesis (tafsir awam, masyarakat awam). Kedua, oral Tafsir (Tafsir lisan) bebas konteks. Dan terakhir,  Regional Particularities (kekhasan regional)

Pak Ahmad Rafiq mengisi STQ 20
Pak Ahmad Rafiq mengisi STQ 20

Keadilan Gender Islam: Upaya Pembacaan Al-Qur’an yang Ramah Perempuan

(Oleh: Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm)

Pemahaman yang baik terhadap Al-Qur’an dapat memberikan dampak positif terhadap seseorang, hal ini tak terlepas dari pembahasan gender. Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dan berada dalam status yang sama. Dalam pandangan Al-Qur’an, manusia di bumi diutus untuk menjadi khalifah, laki-laki dan perempuan mempunyai amanah yang sama dalam kekhalifahan ini. Adapun perbedaan yang sangat mendasar antara sesama manusia adalah pada ketaatan yang dimiliki kepada Allah SWT. Jadi, sangat tidak tepat jika dipahami bahwa perempuan itu memiliki tempat yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Sejarah Peradaban Manusia

  1. Pra islam: Perempuan miliki mutlak laki-laki sehingga bisa dijual dan disetubuhi mahram (Yunani, Romawi, Persia, Arab)
  2. Abad 7 M: Revolusi Islam atas kemanusiaanperempuan (status, kedudukan,nilai, dan peran)
  3. Abad 17 M: Tradisi Sati di India dan Cina baru dihapuskan
  4. Abad 19 M: UU yang bolehkan suami jual istri dibatalakan (Eropa)

Relasi Gender dalam Bahasa Arab

  1. Tiap kata benda berjenis kelamin (mudzakar, muannas). Pusat kesadaran: Jenis kelamin/gender
  2. Kata benda perempuan cukup ditambah (ta’). Status laki-laki primer, perempuan sekunder.
  3. Satu laki-laki dapat mengubah jenis kelamin satu grup perempuan (jama’ mudzakar). Nilai 1 laki-laki lebih penting dari beberapa perempuan.
  4. Jama’ mudzakar dapat mengandung perempuan sedangkan jama’ muannas tidak. Peran laki-laki aktif, peran perempuan pasif.

Mandat Kemaslahatan Manusia

  1. Global: Rahmatan lil alamin
  2. Negara makmur: Baldatun tyaibatun
  3. Masyarakat terbaik: Khaira ummah
  4. Keluaga maslahah

Kemaslahatan Islam

  1. Sesuatu dapat disebut maslahat jika adil (maslahat terhadap perempuan)
  2. Sesuatu tidak disebut maslahat apabila berdampak buruk terhadap gender lain dari kedua gender.
  3. Sesuatu dapat disebut maslahat walau hanya maslahat bagi perempuan karena kondisi kekhasannya. Sedangkan hal tersebut tidak diperlukan untuk laki-laki, karena tidak memiliki kondisi khas tersebut.

Level Kesadaran kemanusian perempuan

  1. Level terendah, manusia itu hanya laki-laki.
  2. Level menengah, laki-laki primer, perempuan sekunder. Kemaslahatan laki-laki diutamankan sebagai standar
  3. Level tertinggi, perempuan dan laki-laki dianggap sebagai manusia. Kemaslahatan untuk keduanya terjadi.

Nilai-nilai baru Al-Qur’an yang membebaskan perempuan dari penindasan, seperti yang terjadi pada masa arab lalu dan pandangan patriarki memerikan angin segar terhadap eksistensi perempuan. Pusat kesadaran yang dimiliki oleh islam dan patriarki sangatlah berbeda, islam lebih terfokus pada manusia, sedangkan patriarki terfokus pada jenis kelamin. Status yang diberikan juga berbeda, islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, tetapi patriarki menjungjung laki-laki.  Islam memberi penilaian berdasarka ketaqwaan yang dimiliki, baik dari golongan laki-laki maupun perempuan. Dalam interaksi sosial, islam mengajarkan akan pentingnya peran yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan yang dapat saling melengkapi satu sama lain. Hal ini berbeda dengan pandangan patriarki yang memberikan peran lebih terhadap laki-laki dari pada perempuan.

Dari sini dapat terlihat jelas bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk atas kemaslahatan, oleh karenanya diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat memahami dan mengerti makna sentral yang terdapat didalamnya, khususnya terhadap permasalahan gender. Namun, perlu diingat bahwa kemaslahatan itu bukan hanya memberikan kebaikan terhadap salah satu golongan, tetapi juga menyeluruh.

Bu Nur Rofiah mengisi STQ 20
Bu Nur Rofiah mengisi STQ 20

Sekian, sampai jumpa di STQ dan berbagai agenda CRIS berikutnya. Salam literasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *